Minggu, 16 November 2008

Anis Matta Capres Versi KAMMI?

NILAH.COM, Makassar - Dukungan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) atas usul agar Anis Matta mamu sebagai capres pada pemilu 2009, membuat Sekretaris Jenderal PKS berbangga.

“Kalau KAMMI mengusulkan saya menjadi calon presiden itu lebih bagus lagi,” kata Anis dengan raut muka berseri-seri, usai berbicara pada Muktamar KAMMI, Kamis (6/11) di Makassar.

Meski dirinya termasuk nominator capres di PKS Anis merasa jika kehadirannya di Muktamar KAMMI karena dianggap sebagai salah satu tokoh yang layak untuk hadir dan berpotensi untuk menjadi pemimpin masa depan.

Sementara itu Steering Comite Muktamar VI KAMMI selaku ketua kebijakan publik KAMMI pusat, Ariyanto Hendrata, mengaku mengundang sejumlah tokoh nasional sejalan dengan tema Muktamar tentang kepemimpinan masa depan.

“Untuk melengkapi fortopolio dalam khasanah wacana kepemimpinan di antara kami mahasiswa. Tentunya kami mengundang tokoh nasional termasuk Anis Matta,” jelas Ariyanto.

Ariyanto mengemukakan alasan, mengapa Anis Matta layak didukung, sebab KAMMI melihat sosok ketokohan dalam diri Anis, dan sosok itu memiliki gagasan anak muda. Dan terpenting menurutnya tokoh muda PKS ini dianggap memiliki gagasan besar untuk menyelesaikan permasalahan bangsa dan menjawab tantangan bangsa.

Diungkapkan juga kalau, KAMMI juga telah mengundang tokoh PKS lainnya yang juga sebagai ketua MPR Hidayat Nurwahid. Namun, Hidayat batal ke Makassar.

“Pak Hidayat kita anggap gagal sebagai calon pemimpin masa depan, sebab tidak bisa memegang komitmennya untuk memaparkan visi-misinya dalam menyelesaikan persoalan bangsa ini,” tandasnya.

Munculkan 8 Nama Calon Pemimpin Nasional


Musyawarah Majelis Syura yang ditutup ahad (26/10) memunculkan delapan nama calon pemimpin nasional. Mereka adalah DR. Hidayat Nur Wahid, Ir. H. Tifatul Sembiring, DR. H. Salim Segaff Al Jufri, H.M. Anis Matta Lc, Prof. DR. H. Irwan Prayitno, H. Suharna Surapranata, M.T., DR. Sohibul Iman M.Sc., dan DR. H Surahman Hidayat, M.A.

Iklan Tandingan untuk PKS

Kalau operator-operator jaringan komunikasi saja bisa saling memberikan iklan-iklan menarik dengan sindiran-sindiran manis kepada kompetitornya, kenapa partai politik tidak bisa?


Saya heran melihat elit partai politik yang tiada hentinya melakukan kritik terhadap iklan PKS, dengan materi kritik yang selalu serupa, kepemilikan tokoh. Saya sangat menyayangkan hal ini, karena jujur, baru kali ini saya melihat iklan yang benar-benar bisa menggetarkan hati saya seperti ini.

Begini, terlepas dari penyebutan guru bangsa, pahlawan, motivator, dan ilham bangsa yang juga turut dipermasalahkan. Apabila ditinjau dari kode etik atau penayangan yang saya fahami, PKS sebenarnya sudah sesuai dengan kode etik yang ada, yakni melakukan kutipan terhadap tokoh atau sumber yang memberikan suatu ilham, faham, atau idealisme yang dianutnya.

Saya rasa hal ini sama halnya dengan penulisan tugas akhir, skripsi, atau karya tulis lainnya dimana setiap informasi tambahan yang berasal dari sumber tertentu harus disertakan dengan mengutip sumber asalnya, dan semua kutipan ini tidak perlu melalui proses perizinan.

Nah sekarang, bukanlah saatnya lagi bagi para elit parpol tersebut untuk memusingkan iklan PKS, tapi bagaimana membuat iklan 'tandingan' partainya yang lebih baik, lebih kreatif, lebih menarik dibandingkan PKS.

Kalau operator-operator jaringan komunikasi saja bisa saling memberikan iklan-iklan menarik dengan sindiran-sindiran manis kepada kompetitornya, kenapa partai politik tidak bisa?

Kalau memang perlu, tampilkan Ustad Rahmat Abdullah selaku salah satu tokoh sentral

PKS yang pernah hidup di tengah-tengah kadernya. Walau saya rasa mereka (kader-kader PKS) justru akan senang karena pesan moral Ustad Rahmat disebarkan tanpa perlu repot-repot lagi menyebarkannya.

Dan apabila pesan moral Ustad Rahmat ini terefleksikan dalam diri orang yang melihat iklan tersebut dan kemudian mengamalkannya serta mengajarkanya kembali, maka hal ini tentu saja menjadi pahala yang tidak pernah putus bagi Ustad Rahmat.

Bukankah hal ini juga berlaku bagi tokoh-tokoh yang ditampilkan pada iklan PKS. Kalau kita memang mengidolakan tokoh-tokoh yang ditampilkan oleh PKS, maka bukankah sudah seharusnya kita bersyukur?

Sudah saatnya bangsa ini untuk maju tanpa perlu dipusingkan dengan hal yang kontra-produktif. Kalau memang Anda adalah pemimpin atau calon pemimpin bangsa ini, maka sudah saatnya bagi Anda untuk mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan bagi bangsa ini.

Romad Anjar, romad_tiui04@yahoo.com

http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2008/11/16/62133/iklan-tandingan-untuk-pks/



Rabu, 12 November 2008

Ada Apa di Balik Guremnya PKS?

PK-Sejahtera Online: Sejak pemilu 1999, 2004 dan hingga kini 2008, berbagai kalangan media massa, masyarakat luas, bahkan pengamat dari negara asing sudah tahu kalau Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu partai gurem, alias perolehan suaranya tidak pernah melebihi 8%. Tidak ada istimewa dan aneh mengenai status guremnya si bulan kembar pengapit padi itu. Bukan barang baru, biasa saja.

Namun, masyarakat luas semakin cerdas dan tidak terkecoh dengan angka kecil, sebagaimana kecilnya partai bernomor 8 itu. Sebab tidak semua yang berjumlah, berbobot, berukuran atau bernilai angka kecil itu bermakna tidak ada artinya atau tidak ada perannya.


Dengan membaca sejarah orang paham bahwa suatu bangsa, peradaban bahkan wajah dunia seringkali diubah oleh pergerakan yang dirintis oleh satu orang saja, atau segelintir golongan minoritas alias berjumlah kecil.

Contohnya adalah si raja penemu asal AS, Thomas Alva Edison, yang di dunia ini hanya berjumlah satu di antara bermiliar-miliar manusia. Dalam persen, jumlah sosok Thomas Alva Edison ini dibandingkan seluruh miliaran penduduk dunia adalah kurang lebih 0,0000000001%, yakni nyaris “nol” alias tidak ada. Jumlah ini terlampau jauh lebih kecil daripada perolehan suara PKS di pemilu 2004 (sekitar 7%).

Lalu kenapa media massa seolah hingar-bingar meliput kiprah partai bulan-padi bernomor 8 ini? Padahal PKS partai kecil, gurem, beranggota sedikit, tidak punya kekuatan, tukang koar-koar. Fenomena PKS itu bisa dipahami dengan logika sebagaimana kasus Thomas Alva Edison, sang pendiri perusahaan raksasa General Electric.

Edison, yang hanya satu orang di antara miliaran manusia, memiliki tak kurang dari 1.097 temuan yang telah dipatenkan. Dua di antaranya adalah bola lampu listrik dan sistem pendistribusian listrik, yang benar-benar telah mengubah wajah dunia, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Edison menjadi buah bibir warga seluruh dunia bukan karena jumlah sosoknya yang hanya sekitar 0,0000000001%, tapi karena prestasi luar biasanya yang berdampak dahsyat dan bermanfaat besar buat orang sejagat.

Abu Awlaadih, onenosed@googlemail.com
/>
http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2008/11/10/60782/ada-apa-di-balik-guremnya-pks/


Pengirim: Ningsih
Update: 13/11/2008 Oleh: Ningsih

Selasa, 28 Oktober 2008

Inilah 8 Nominator Capres PKS

Nominator capres itu adalah Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Presiden PKS Tifatul Sembiring, Dubes RI untuk Saudi Arabia Salim Segaff Al Jufri, Sekjen PKS Anis Matta,


INILAH.COM, Jakarta – PKS telah menetapkan delapan nama yang dinominasikan sebagai calon presiden bagi Pilpres 2009. Mereka berasal dari tubuh partai berlambang bulan dua bulan sabit yang mengapit sebatang padi itu.

Kedelapan kader PKS yang menjadi nominator capres itu adalah Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Presiden PKS Tifatul Sembiring, Dubes RI untuk Saudi Arabia Salim Segaff Al Jufri, Sekjen PKS Anis Matta, Ketua Komisi X Irwan Prayitno, Ketua Majelis Pertimbangan PKS Suharna Surapranata, Ketua DPP Ekuin dan Teknologi PKS Sohibul Iman, dan Surahman Hidayat.

Nama-nama nominator, menurut Ketua Majelis Syura PKS Hilmi Aminuddin, diputuskan berdasarkan hasil sidang pleno Majelis Syura PKS ke-10. Sementara untuk memutuskan pemilihan capres akan dibentuk komisi ad hoc bernama Komisi Pilpres dan Capres. Namun, penetapan capres baru akan ditentukan setelah Pemilu Legislatif.

“Majelis Syura akan bersidang, siapa dari delapan nominator yang akan dipilih sebagai kata terakhir,” kata Hilmi, dalam konferensi pers di acara Musyawarah Majelis Syura PKS ke-10, di Hotel Sahid, Jakarta, Minggu (26/10).

Anggota Mejelis Syura yang bersidang, tambah Hilmi, berjumlah 99 orang. Mereka terdiri dari 33 perwakilan di seluruh Indonesia. “Nantinya, mereka yang akan menyalurkan aspirasi, siapa saja yang nanti layak dari kedelapan nominator unrtuk dijadikan capres,” jelasnya. [R2]

http://inilah.com/berita/politik/2008/10/26/57490/inilah-8-nominator-capres-pks/

Senin, 25 Agustus 2008

Ust Rahmat Abdullah


Merendahlah,

engkau kan seperti bintang-gemintang

Berkilau di pandang orang

Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi

Janganlah seperti asap

Yang mengangkat diri tinggi di langit

Padahal dirinya rendah-hina

(Rahmat Abdullah)

Seperti tak percaya aku mendengar kabar itu: kau sudah pergi untuk selamanya. Dan kenangan demi kenangan berkelebat cepat di benakku, menyisakan satu nama: Rahmat Abdullah. Kita memang tak banyak bertemu, tak banyak bercakap. Tapi percayakah kau, aku menjadikanmu salah satu teladan diri. Kau menjelma salah satu sosok yang kucinta. Tahukah kau, hampir tak ada tulisanmu yang tak kubaca? Dan setelah membacanya selalu ada sinar yang menyelusup menerangi kalbu dan pikiranku. Tidak sampai di situ, buku-bukumu selalu membuatku bergerak. Ya, bergerak!

Kau mungkin tak ingat tentang senja itu. Tapi aku tak akan pernah melupakannya. Saat itu kau baru saja pulang dari rumah sakit untuk memeriksakan kesehatanmu. Aku dan seorang teman menunggumu. Kami membutuhkanmu untuk memberi masukan terhadap apa yang tengah kami kerjakan. Tanpa istirahat terlebih dahulu, dengan senyuman dan kebersahajaan yang khas, kau menemui kami. Tak kau perlihatkan bahwa kau sedang tak sehat. Bahkan kau bawa sendiri makanan dan minuman untuk kami. Dengan riang kau menyemangati kami. "Ini kebaikan yang luar biasa," katamu. "Bismillah. Berjuanglah dengan pena-pena itu!"

Lalu kami mengundangmu untuk hadir pada acara milad organisasi kecil kami. Sekadar menyampaikan undangan, dan tak terlalu berharap kau datang, karena kami tahu kau sangat sibuk dengan begitu banyak persoalan ummat. Hari itu, bulan Juli 2002, milad ke 5 organisasi kami: Forum Lingkar Pena. Semua panitia direpotkan oleh banyak hal yang harus dikerjakan. Aku masih sempat bertanya pada panitia: "Adakah yang menjemput Pak Taufiq Ismail dan Pak Rahmat Abdullah?"

Panitia menggeleng. Banyak yang harus dikerjakan. Tak ada mobil atau tenaga untuk menjemput. Sudahlah, pikirku. Pak Taufiq dan Pak Rahmat terlalu besar untuk hadir di acara seperti ini.

Aku hampir melompat ketika melihat Pak Taufiq Ismail datang sendirian dengan taksi dan menyapa kami riang. Dan aku tak percaya ketika tak lama kemudian kau muncul! "Ustadz, terimakasih sudah datang. Kami tidak menyangka...," sambutku.

Kau tersenyum. "Saya sudah agendakan untuk datang," katamu. "Ini acara FLP. Istimewa." Mataku berkaca. Ini ustadz Rahmat Abdullah, ia terbiasa diundang sebagai pembicara dalam berbagai acara nasional sampai internasional. Dan kini ia sudi hadir sebagai undangan biasa!

"Maaf ustadz tidak dijemput. Ustadz naik apa tadi?" Naik bis. Tempatnya mudah dicari," katamu biasa.

Kau sempat turut memberikan award dalam acara tersebut dan memimpin doa penutup. Aku menangis mendengar doa yang kau lantunkan, Ustadz. Kau berulangkali mendoakan agar organisasi kami: FLP selalu bisa melahirkan para pemuda yang tak akan berhenti berjuang dengan pena.... Pada akhir acara, kau turut berjongkok bersama para pemuda lainnya dan menandatangani spanduk yang kami gelar bertuliskan "Sastra untuk Kemanusiaan."

"Saya mencintai sastra dan suka membuat puisi," ceritamu. Hari itu kehadiranmu benar-benar memberi semangat baru bagi kami.

Ustadz, aku selalu mengenangmu sebagai suami dan ayah yang baik dalam keluarga. Sebagai guru sejati bagi ribuan da'i. Dan ketika kau terpilih menjadi anggota DPR RI tahun 2004 lalu, tak ada yang berubah darimu, kecuali usaha yang lebih keras untuk membuat rakyat tersenyum. Dalam keadaanmu yang sederhana, kau tak berhenti memberi zakat dan infaq dari gajimu. Kau satu dari sedikit orang yang pernah kutemui, yang sangat berhati-hati dengan amanah dan berjuang untuk menunaikannya tanpa cacat. Ah, pernahkah kau meminta tarif untuk mengisi ceramah? Tak ada. Kau bahkan pernah berkata: "Alhamdulillah ada lagi orang yang mau mendengarkan taushiyah dari hamba Allah yang lemah ini."

Terakhir kali kita bertemu, Ustadz, di sebuah jalan raya, sekitar akhir tahun lalu. Dan aku tak percaya, kau—anggota dewan yang terhormat--- masih saja menyetop kopaja. Kini dalam usia 53 tahun, kau pun kembali untuk selamanya. Ribuan orang, tak terhingga orang, datang mengiringi untuk terakhir kali, sambil tak henti bersaksi tentang keindahanmu.

Selamat jalan, Ustadz. Jalan kebaikan dan cinta yang selalu kau tempuh di dunia, semoga mengantarkanmu ke gerbang yang paling indah di sisiNya. Amiin. (Helvy Tiana Rosa)